"Shelly, kenapa kamu begitu bodoh?" Courtney menghela napas. "Kamu bisa jadi kaya dalam semalam, namun kamu memilih untuk tetap miskin karena harga diri kamu. Jika aku jadi kamu, aku akan kasih tahu keluarga Foster pada hari yang sama ketika aku tahu bahwa aku hamil. Bahkan jika Hayden Tate tidak mau bayinya, orang tuanya pasti akan biarkan kamu merawat anak-anaknya."Shelly tersipu. "Courtney, aku akan bawa Audrey ke tempat kamu besok. Boleh?""Tentu saja! Cucu perempuan Elliot Foster yang sedang kita bicarakan ini. Apa kamu tidak khawatir aku akan membawanya ke Elliot dan meminta uang dari dia?" Courtney tertawa terbahak-bahak."... Aku percaya kamu.""Keluarga aku menjalankan bisnis dan aku berjiwa pengusaha. Jika aku bawa Audrey ke Elliot, dia akan membayarku setidaknya 150.000," kata Courtney menghitung angka, dan itu hanya jumlah minimum. Dia mungkin membiarkan aku menyebutkan harga dan bayar aku 780.000 atau bahkan 1,5 juta jika aku memintanya."Shelly terdiam mendengar kat
’Mengapa dia tidak melahirkan anaknya di sini sendirian? Jika dia tidak mau bayinya, mengapa melahirkannya? Jika dia mau uang, dia bisa minta. Tidak ada gunanya dia melakukan semua ini,’ pikir Hayden."Hayden, kenapa kamu bangun sepagi ini? Kamu seharusnya masih tidur," kata Avery ketika dia melihatnya."Apa kalian berdua tidur nyenyak?" Hayden bertanya.Karena orang tuanya tidur dengan bayinya pada malam sebelumnya, Hayden berasumsi bahwa mereka tidak bisa tidur nyenyak."Hahaha! Ibu tidur nyenyak, tapi ayah kamu tidak." Avery berseri-seri. "Putra kamu bangun setiap dua jam menangis minta susu. Hahaha!"Ekspresi hancur muncul di wajah Hayden. "Apa semua bayi seperti itu?""Bayi seusianya hampir semua seperti itu." Avery telah menerima kenyataan bahwa dia adalah seorang nenek dan sangat senang karenanya. "Apa kamu ingin coba tidur dengan putramu?""Ayo kita sewa pengasuh saja!" kata Hayden."Tentu. Apa kamu sudah temukan ibu dari anak mu?""Sebentar lagi.""Kamu punya nomorny
Hayden hampir tidak bisa mencicipi makanannya saat sarapan karena Elliot duduk di sebelahnya bersama bayi itu.Bayi itu cukup makan dan istirahat, jadi dia mengedipkan matanya yang besar saat dia menatap Hayden.Hayden meninggalkan meja tak lama setelah memakan oatmealnya."Avery, Hayden sepertinya tidak suka degan putranya." bisik Elliot."Mungkin dia shock." kata Avery."Tapi ini kan anak dia! Aku mungkin brengsek dulu, tapi aku masih cinta anak-anak aku." Elliot kesal karena Hayden begitu dingin pada putranya sendiri."Hayden sudah lumayan dengan tidak mengabaikan bayinya." Avery menghiburnya. "Aku pernah baca buku yang bilang kalau laki-laki membutuhkan lebih banyak waktu untuk membangun hubungan dengan anak-anak mereka karena mereka tidak mengandung bayi dan melahirkannya.""Oke! Aku harap bukunya benar."Hayden memutar nomor yang dia terima dari manajer hotel pada malam sebelumnya dan teleponnya langsung dijawab.Jantungnya berdegup kencang dan dia berkata, "Halo. Aku Ha
"Hari ini?" tanya Shelly."Ya. Hari ini." kata Hayden tegas."Tuan Tate, kita tidak harus ketemu." Shelly tidak ingin bertemu langsung dengan Hayden karena dia khawatir dia tidak akan bisa berbohong.Lagi pula, orang seperti Hayden telah melihat cukup banyak orang untuk mengetahui kapan dia dibohongi."Kamu menghubungi aku karena bayinya, kan?" kata Shelly. "Aku memang minta seseorang untuk membawa bayi itu kepada kamu. Aku miskin dan tidak mampu membesarkan anak, jadi kupikir dia akan lebih baik bersama kamu.""Mengapa kamu melahirkan dia kalau itu masalahnya?" Hayden bertanya. "Cuma supaya kamu bisa serahkan dia ke aku tanpa dapat imbalan apa pun?"Shelly tersipu.Nada bicara Hayden menantang dan kasar dan dia bersyukur dia tidak harus menghadapinya secara langsung."Bukan itu... Orang-orang itu rumit dan mereka mungkin punya pikiran berbeda seiring berjalannya waktu. Awalnya aku ingin menggugurkan bayi itu tetapi tidak memiliki keberanian untuk aborsi. Setelah beberapa kali
"Kamu sebaiknya bahas dulu sama dia! Kalau kamu tidak tahu berapa banyak kamu harus bayar dia, kamu dapat kasih dia uang saku setiap bulan untuk pastikan dia tidak kesulitan." kata Avery. "Lagi pula, anak itu akan kesal jika dia tumbuh dewasa dan tahu ibunya menderita.""Bu, kalau anak itu tidak berinteraksi dengan ibunya, dia tidak akan merasakan apa-apa terhadapnya. Lihat saja Ayah. Dia tidak merasakan apa-apa untuk ibu kandungnya." bantah Hayden.Avery menatap putranya dengan kaget."Ibu baru saja menurunkan bayinya! Apa kamu tidak lelah menggendongnya?""Aku baik-baik saja. Dia tidak tidur sekarang jadi aku mau lebih banyak berinteraksi dengannya. Dia akan bosan kalau harus berbaring di tempat tidur sepanjang waktu.""Kamu bisa beli kereta dorong dan memasukka dia ke dalam situ." Hayden pernah menggendong bayi itu sebelumnya dan tahu bahwa dia cukup berat. Meskipun tidak apa-apa untuk menggendong bayi sebentar, seseorang pasti akan merasa sakit jika harus menggendong bayi sepa
Tak lama kemudian, Robert turun."Apakah kamu nggak ada kelas hari ini?" Hayden bertanya."Enggak ada. Hayden, bukankah ada sesuatu yang mau kamu lakukan pagi ini?" Robert menguap. "Di mana putramu?""Hasil tes DNA-nya belum keluar," Hayden mengingatkannya."Tapi kita semua tahu itu anakmu! Aku belum pernah menyentuh wanita sebelumnya, jadi aku tidak bisa berhubungan begitu saja," kata Robert geli. "Hayden, apakah kamu masih belum bisa menerima kenyataan?"Hayden mengabaikan ejekan adiknya."Hayden, normal bagi pria seusiamu untuk menjadi seorang ayah, jadi mengapa kamu begitu sulit menerima ini? Aku akan sangat senang jika mengetahui bahwa aku telah menjadi seorang ayah! Lagi pula orang tua kita juga bermimpi ingin memiliki cucu," kata Robert sambil tersenyum, tidak mengerti mengapa Hayden tampak tidak bahagia."Habiskanlah sarapanmu," kata Hayden yang tidak ingin melanjutkan pembicaraan.Robert adalah seorang anak kecil di mata Hayden, dan dia akan tetap seperti itu, tidak pe
Hayden memesan secangkir kopi dan mengalihkan perhatiannya kembali ke Shelly."Aku tidak suka berutang kepada orang lain," katanya. "Sebutkan saja harganya!""Kamu ingin membeli anakku?" Shelly bertanya dengan bingung. "Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa kamu tidak akan membiarkan aku melihatnya lagi?""Tidak. Aku bisa mengaturnya jika kamu ingin bertemu dengannya. Aku tidak punya hak untuk melarang putraku menemui ibunya.""Kalau begitu, mengapa kamu menawari aku uang?" tanya Shelly. "Aku-lah yang dengan rela melahirkannya dan menyerahkannya kepadamu. Kamu tidak berutang apa pun padaku!""Kamu hamil selama sembilan bulan dan harus menjalani persalinan sendirian. Aku hanya menawarkan kompensasi atas kesulitan yang sudah kamu tanggung," kata Hayden."Oh... Kehamilan itu tidak terlalu mempengaruhiku karena aku juga bekerja selama itu," kata Shelly jujur. "Jika kamu ingin memberikan kompensasi kepadaku dengan cara apa pun, perlakukan saja anak kita dengan benar.""Tentu saja, ak
Shelly terkekeh. "Tuan Hayden, pertanyaanmu membuat aku merasa tidak nyaman, tetapi aku dapat memberitahumu bahwa aku tidak memiliki pria yang menungguku.""Mengapa kamu merasa tidak nyaman?""Karena itu kehidupan pribadiku yang kamu tanyakan."Setelah menerima tanggapannya, Hayden hendak mengakhiri pembicaraan ketika teleponnya berdering.Dia mengeluarkannya dan menyadari bahwa itu adalah telepon dari Avery.Mengetahui bahwa Avery menelepon untuk memeriksanya, dia menjawab panggilan di depan Shelly."Hayden, apakah kamu sudah bertemu dengan ibu bayi itu? Bagaimana percakapannya? Siapa namanya? Seperti apa dia?" Avery melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. "Seperti apa dia secara pribadi?""Kami sedang bertemu. Percakapannya sudah berakhir. Namanya Shelly Taylor. Dia sekarang bekerja di sebuah kafe. Dia terlihat baik-baik saja."Shelly dibuat terdiam oleh betapa tidak sensitifnya Hayden, membicarakannya seolah-olah dia tidak ada di sini."Dia cukup tegas," tambah Hayden. "Aku